Rabu, 15 Oktober 2008

REI Kurangi Pembangunan Rumah



Meski banyak kalangan yang mengimbau agar pelaku ekonomi di daerah ini tidak panik menghadapi krisis keuangan global yang awalnya dipicu krisis di Amerika Serikat. Namun untuk mengamankan bisnis anggotanya REI Sulsel mengurangi 30 persen pembangunan rumah di Sulsel. Apa alasan REI mengambil langkah itu?
Kenaikan suku bunga KPR memaksa REI Sulsel mengurangi 30 persen laju pembangunan rumah di daerah ini. Itu artinya REI mengurangi 300 rumah baru dari target 1.000 unit per bulan yang akan dibangun tahun 2008.
Untuk menghindari kerugian yang lebih besar, REI Sulsel juga mengerem dan membatalkan rencana pembelian lahan yang menggunakan fasilitas kredit konstruksi. Kebijakan tersebut menurut Ketua REI Sulsel Jamaluddin Jafar seperti dikutip Tribun, Rabu (15/10), sudah disosialisasikan kepada 200 anggota REI Sulsel menyusul kenaikan suku bunga KPR hingga 16 persen yang berlakukan beberapa bank.
Kenaikan suku bunga tersebut diperparah lagi dengan imbauan pemerintah yang meminta perbankan mengurangi dan selektif dalam pengucuran kredit baru. Sehingga REI Sulsel sudah menyebarkan kebijakan ini untuk menghindari risiko kredit macet terhadap pengembang dan user.
Suku bunga KPR di sejumlah bank umum terus naik sebagai dampak naiknya suku bunga Bank Indonesia. Suku bunga KPR berkisar diangka 15-16,5 persen. Kondisi ini akan menyebabkan permintaan KPR akan turun.
Dengan perlambatan tersebut, kata Jamaluddin, maka target pembangunan 12 ribu unit rumah di tahun 2008 tidak akan tercapai. Hingga akhir September 2008 REI sudah merealisasikan pembangunan rumah baru sebanyak 8.000 unit.
Dari target tersebut REI memberikan porsi 70 persen untuk RSH dan 30 persen rumah menengah ke atas yang rata-rata dijual mulai harga Rp 150 juta. Namun keputusan mengurangi jumlah pembangunan tersebut, ungkap dia, hanya berlaku pada rumah menengah ke atas atau nonsubsidi.
Sementara RSH tetap mengaju SK Menpera yang menetapkan harga dan bunga KPR bersubsidi.
Dalam kondisi saat ini yang perlu dilakukan mengurangi margin bangunan dengan tetap mempertahankan kualitas bangunan. REI memilih sikap wait and see terhadap kondisi, kebijakan pemerintah dan perbankan.
Meski memperlambat 30 persen laju pembangunan rumah, namun Jamaluddin mengaku REI tidak mungkin menurunkan harga jual rumah. Satu-satunya cara agar rumah tetap terjual dan daya beli masyarakat terangkat maka REI mendesak pengembang memberikan subsidi bunga enam sampai 12 bulan kepada calon pembeli.
Program subsidi bunga KPR tersebut, kata dia, sangat menolong pengembang dan nasabah.
Di lain pihak, perbankan akan tetap komitmen mengucurkan kredit karena subsidi bunga yang diberikan pengembang.(Rusdy Embas)

Tidak ada komentar: