Senin, 03 November 2008

Gizi Buruk, Balita Meninggal


Balita berusia dua tahun bernama Dea Adeli meninggal karena indikasi gizi buruk. Anak tersebut menghembuskan nafas di RS Labuang Baji, Makassar, Sabtu (1/11) setelah sempat mendapat perawatan medis dua hari.
Menurut pengakuan orangtuanya, anak pasangan warga Jl Monumen Emmy Saelan Lr 1 No 59, Tidung, Makassar itu lahir dalam keadaan sehat dan normal. Namun setelah berumur satu tahun, Dea mulai mengidap sejumlah penyakit seperti mencret dan batuk-batuk.
Kepastian Dea mengidap gizi buruk disampaikan Dr Bahrul Awamil dari Puskesmas Kassikassi yang pernah merawat almarhum.
"Untuk anak seusianya, berat badannya jauh di bawah normal. Dengan usia dua tahun, bobot ideal adalah 12 kilogram tetapi berat Dea hanya enam kilogram," kata Bahrul yang melayat ke rumah duka seperti dilansir Tribun, Minggu (2/11)
Anak bungsu dari dua bersaudara itu kerap dibawa ke Puskesmas Mangasa yang tidak jauh dari rumah yang dihuni pasangan Herman-Nur Fadillah.
Dea juga sempat mendapatkan perawatan intensif dari Puskesmas Kassikassi selama 90 hari. Setelah keadaan Dea dinilai membaik, dia pun diserahkan kepada keluarganya.
Namun sekitar satu pekan setelah Hari Raya Idul Fitri 1429 Hijriyah, anak tersebut kembali mengalami gejala yang sama. Bahkan anak yang lahir 23 November 2006 ini banyak mengeluarkan cacing dari mulut, hidung dan telinganya.
Ketika kondisi anak tersebut semakin memburuk, Herman yang sehari-harinya bekerja sebagai sopir petepete jurusan IKIP dan perumnas, kemudian melarikan anak ke RS Labuangbaji, Kamis (30/10) malam.
Awalnya kedua pasangan suami istri yang menikah tahun 2004 tersebut sempat berpikir untuk tidak membawa anaknya berobat ke rumah sakit karena tidak memiliki biaya.
Korban hanya diberi obat cacing. Saat itulah, cacing keluar dari mulut, hidung, dan telinga Dea. Melihat kondisi tersebut dan masukan dari keluarga akhirnya Dea dibawa ke RS Labuang Baji.
Meski Fadilah harus meninggalkan satu-satu cincin emas seberat 3,5 gram miliknya, sebagai jaminan di RS Labuang Baji.
Cincin tersebut baru dikembalikan setelah keluarganya mengurus surat keterangan tidak mampu dari aparat kelurahan setempat.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel sudah menyiapkan program kesehatan gratis untuk pasien kelas III di semua rumah sakit di bawah naungan pemprov, cukup dengan menyerahkan KTP dan kartu keluarga.
Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi keluarga Herman yang tetap dimintai jaminan. "Itu perhiasan emas saya satu-satunya," kata Nur Fadillah.
Dea menambah daftar balita yang meninggal karena kasus gizi buruk. Sebelumnya, seorang bocah bernama Aco juga diduga meninggal karen gizi buruk di Jl Bonto Duri.
Sementara balita bernama Nazar meninggal karena terlambat mendapat penanganan medis di Puskesmas Barabaraya, 6 Agustus lalu.
Beberapa saat setelah Dea meninggal sejumlah staf Puskesmas Kassikassi, termasuk Dr Bahrul, melayat jenazah balita yang sempat mereka rawat beberapa waktu lalu.
Menurut Bahrul, sesuai dengan gejala yang ditunjukkan korban menderita penyakit pneumonia (penyakit radang paruparu).Korban akan merasakan sakit dada, batuk dan mengalami kesulitan saat bernafas.(Rusdy Embas)

Tidak ada komentar: