Jumat, 05 September 2008

Rumah Sakit Tolak Pasien


Hari ini, Jumat (5/9), Tribun Timur menurunkan berita memilukan. Rumah Sakit Wahidin dikabarkan menolak pasien kanker yang akan melakukan kemoterapi karena tidak mampu membayar biaya sebesar Rp 3,5 juta.
Peristiwa ini mengingatkan banyak orang pada masa-masa kampanye pilkada gubernur Sulsel, beberapa waktu lalu, yang menggembar-gemborkan pelayanan kesehatan gratis bagi rakyat miskin.
Waktunya memang belum belum berbilang tahun. Tetapi rakyat miskin yang terpaksa mengurut dada karena ditolak berobat oleh rumah sakit yang berada di bawah kendali pemerintah, sudah sering terdengar.
Bahkan, Nazar, bocah berusia dua tahun, harus meregang nyawa di pangkuan ibundanya di Puskesmas Tamalate ketika sang Bapak sedang berusaha mencari utangan Rp 25.000 untuk biaya berobat.
Tak ada orang yang ingin dilahirkan dalam kemiskinan. Apalagi, jarak antara kemiskinan dan kekufuran sangatlah dekat.
Wahai mereka yang mengklaim diri sebagai pemimpin, di manakah kamu bertahta ketika rakyat yang memilihmu menjadi pemimpin meregang nyawa menahan rasa pedih tak terperikan dalam kemiskinan?
Datanglah jenguk mereka seperti ketika kamu dulu rajin mengunjungi gubuk mereka saat kamu bermimpi menjadi pemimpin. Ataukah itukah memang karakter aslimu sebagai pemimpin? Semoga nurani para pemimin yang merasa hebat bisa terketuk di bulan Ramadan ini.

Tidak ada komentar: