Minggu, 09 Agustus 2009

Warga-Polisi Bentrok, Kapolres Terluka

Kalau polisi sebagai aparat keamanan bentrok dengan warga siapa yang harus menengahi? Tidak perlu menunggu jawaban. Lebih baca peristiwa yang terjadi di Sulawesi Selatan berikut ini.
Ratusan warga dari 11 desa di Kecamatan Polombangkeng Utara (Polut), Takalar, sekitar 50-an kilometer arah selatan Makassar, Sulawesi Selatan, terlibat bentrok dengan polisi saat mereka (warga) berusaha menduduki lahan garapan PT Perkebunan Nasional (PTPN) XIV di Pabrik Gula Takalar, Minggu (9/8).
Versi warga, sekitar sembilan orang dilaporkan terkena tembakan polisi yang berusaha menghalau mereka. Dua warga, Jufri Daeng Tona (30) dan Haris Daeng Naba (25), hingga tadi malam masih menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara, Makassar, tadi malam.
Sementara lima polisi dilaporkan mengalami luka-luka terkena sabetan senjata tajam maupun lemparan batu, termasuk Kapolres Takalar AKBP Andi Asdi dan Kapolsek Polut, AKP Abd Malik.
"Kasusnya masih dalam penanganan. Laporan yang kami terima, polisi memang melepaskan tembakan peluru karet karena massa sudah anarkis dan menyerang petugas dengan senjata tajam," kata Kepala Bidang Humas Polda Suselbar, Kombes Polisi Hery Subiansari seperti dikutip Tribun Timur, Senin (10/8).
Sejumlah warga menuturkan, saat kejadian terdengar rentetan tembakan yang dilepaskan oleh polisi yang bertugas di kawasan tersebut.
Bentrokan ini adalah yang kesekian kalinya terkait sengketa lahan tebu antara warga yang mengklaim sebagai pemilik lahan dengan pihak PTPN XIV melalui PG Takalar.
Kontributor Metro TV, Agus, juga menjadi korban pengeroyokan dalam insiden tersebut. Warga Gowa ini dikeroyok karyawan PG Takalar. Kameranya juga ikut dirusak.
Membakar
Bentrokan berawal sekitar pukul 09.00 wita. Ratusan orang tiba-tiba mendatangi lahan di petak A 28 Blok A2, Desa Pa'rappunganta, Polut. Saat itu, ada beberapa warga yang mulai membakar bibit tebu. Massa dipimpin oleh Haji Bani.
Perwira Polresta Takalar, Ipda Masdar, yang datang untuk menenangkan warga mendapat sebetan parang padan bagian telunjuk kanan yang dilakukan oleh Do'do Dg Gassing, warga Pakkawa, Kelurahan Mattoppodalle.
Suasana kemudian bisa dikendalikan. Namun suasana kembali memanas saat kapolres tiba di lokasi. Sekitar pukul 11.00, warga kembali merapat ke lokasi lahan dan mulai menyerang.
Kapolres saat itu sedangkan menenangkan warga agar tidak menghalangi karyawan karena mereka mengolah lahan yang sudah jadi milik pemerintah berdasarkan surat pembebasan yang dimiliki oleh PTPN XIV untuk digunakan sebagai hak guna usaha (HGU).
Kepada warga, mantan Kapolres Mamasa ini meminta diperlihatkan bukti kepemilikan lahan serta menunjukkan lahan dimaksu bila mereka belum mendapat ganti rugi.
"Kalau ada bukti hukumnya, saya siap memfasilitasi mempertemukan dengan kepemerintah. Semua harus taat pada hukum," kata kapolres saat itu.
Kapolres Dilempar
Tiba-tiba terjadi keributan. Kapolres yang sedang menyampaikan penjelasan terkena lemparan batu. Koordinator aksi, Bahrun Dg Situju, mencoba menenangkan warga agar tidak melempar.
Namun aksi massa sudah tidak terkendali. Aparat kepolisian dari Polres Takalar bersama pasukan brimob kemudian melepaskan tembakan peringatan sebanyak tiga kali. Warga tidak menggubris tembakan tersebut.
Warga bahkan merusaka tiga tameng brimob. Seorang anggota polisi, Bipda Amal, juga terkena lemparan warga pada bagian dada. Kanit Resintel Polsek Polut, Ipda Idrus, juga mengalami nasih serupa.
Kena Tembak
Kejadian ini juga mengakibatkan beberapa warga terkena tembakan petugas saat dibubarkan. Selain Jufri dan Haris, warga lainnya yang terkena tembakan adalah Baso Dg Nanring warga Desa Timbuseng, Dg Masso,Jamaluddin Dg Lebang, Massu Dg Manrung, dan Hamid Dg Mone.
Sebagian korban sudah diizinkan pulang setekah mendapat perawatan di RSU Takalar. Sementara sejumlah orang lainnya yang diduga sebagai pemicu diperiksa di Mapolres Takalar.
Mereka yang diamankan, di antaranya, Bani bersama tiga warga lainnya yang diduga sebagai penggerak massa.

Tidak ada komentar: