Rabu, 26 November 2008
Kabid Dispora Dirampok, Duit Rp 100 Juta Raib
Hati-hati membawa uang banyak. Ini peringatan bagi mereka yang sering dipercaya mencairkan dana untuk kebutuhan sebuah organisasi agar tidak bertindak sembrono. Sebab kalau salah bisa berakibat fatal seperti yang dialami Kabid Dispora Makassar.
Kepala Bidang Kelembagaan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Pemerintah Kota Makassar M Basri mengalami nasib apes. Uang tunai senilai Rp 100 juta yang baru saja ia tarik dari Bank Sulsel dan ditaruh di mobilnya dirampok, Selasa (25/11) sekitar pukul 14.00 wita.
Padahal dana tersebut akan digunakan korban membayar biaya kegiatan kewirausahaan pemuda, 2-9 Desember 2008 di Hotel Singgasana. Kegiatan ini merupakan agenda Dispora Makassar.
Perampok diduga mengendarai mobil Toyota Kuda warna perak. Saat itu mobil Suzuki Escudo DD 111 RG milik korban sedang diparkir di depan rumah rekannya, Sunardi, di Kompleks Hartaco 2B, Jl Dg Tata, Makassar.
Hanya berselang sekitar 10 menit saat korban berada di rumah rekannya, beberapa warga berteriak menanyakan siapa pemilik mobil yang kaca jendelanya pecah. Mendengar hal itu, Basri yang juga mantan Wakil Ketua KNPI Sulawesi Selatan bergegas ke luar rumah mendekati mobilnya.
Benar. Kaca jendela mobilnya bagian samping kanan pecah. Uang tunai senilai Rp 100 juta yang dibungkus kantong plastik hitam yang disimpan dalam mobil raib. Diduga pelaku membuka pintu mobil yang terkunci itu setelah kaca jendela itu dipecahkan.
Saat melihat kaca mobilnya pecah dan mengetahui kantong plastik berisi uangnya itu raib, Basri hampir tak sadarkan diri.
"Jangan-jangan pelakunya mengikuti saya sejak dari Bank Sulsel di Jl Ratulangi. Saya memang sebelumnya ambil uang dari Bank Sulsel sebelum saya ke rumah teman di Hartaco," tutur Basri seperti dilansir Tribun Timur, Rabu (26/11).
Banyak hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa ini. Kenapa uang sebanyak itu tidak dibawa ke kantor dulu. Apalagi jarak antara Balaikota dengan Bank Sulsel tempat uang itu dicairkan lebih dekat dengan rumah teman korban.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Label:
Peristiwa
Warga Perumahan Bentrok dengan Mahasiswa
Gara-gara dihadang seusai bertamu di rumah teman wanitanya di sebuah kompleks perumahan, seorang mahasiswa mengajak rekan-rekannya untuk mendatangi kelompok pemuda yang telah menghadangnya.
Sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) terlibat bentrok dengan puluhan warga Kompleks Perumahan Pemda, Jl Mappala, Makassar, Senin (24/11) tengah malam. Akibatnya seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi UNM bernama Roby (17) mengalami luka di pelipis kirinya.
Polisi kemudian menetapkan lima tersangka dalam bentrokan tersebut. Terdiri empat orang dari kubu warga yakni Unang, Anto, Didi, M Adil dan seorang dari kubu mahasiswa berinisial Ar. Hingga tadi malam, kelimanya masih mendekam di bilik jeruji besi Markas Polresta Rappocini.
Kepala Unit Reskrim Polsekta Rappocini Iptu Edwar yang dikutip Tribun Timur, Rabu (26/11), menceritakan, bentrokan itu bermula saat Roby baru saja pulang dari rumah rekan wanitanya, Ila, di Kompleks Perumahan Pemda. Saat korban dihadang sejumlah pemuda di lorong, tak jauh rumah rekan wanitanya. Tanpa banyak tanya, Roby kemudian dipukul oleh beberapa pemuda. Diduga pemuda itu sedang mabuk. Karena tak bisa melawan, korban kemudian lari menghindari pengeroyokan.
Namun tak berapa lama kemudian, Roby yang diketahui bermukim di Jl Mallengkeri, kembali datang di lokasi kejadian. Kali Roby datang bersama beberapa rekannya dengan mengendarai sepeda motor. Mereka pun terlibat bentrok dengan belasan pemuda yang sempat menghadangnya.
"Beberapa pemuda itu ada yang terlihat membawa parang. Sedangkan dari kubu mahasiswa ada yang membawa kunci inggris," ungkap Edwar, kemarin.
Perkelahian baru reda setelah aparat dari Polsekta Rappocini tiba di lokasi dan langsung mengamankan beberapa orang yang terlibat bentrok.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) terlibat bentrok dengan puluhan warga Kompleks Perumahan Pemda, Jl Mappala, Makassar, Senin (24/11) tengah malam. Akibatnya seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi UNM bernama Roby (17) mengalami luka di pelipis kirinya.
Polisi kemudian menetapkan lima tersangka dalam bentrokan tersebut. Terdiri empat orang dari kubu warga yakni Unang, Anto, Didi, M Adil dan seorang dari kubu mahasiswa berinisial Ar. Hingga tadi malam, kelimanya masih mendekam di bilik jeruji besi Markas Polresta Rappocini.
Kepala Unit Reskrim Polsekta Rappocini Iptu Edwar yang dikutip Tribun Timur, Rabu (26/11), menceritakan, bentrokan itu bermula saat Roby baru saja pulang dari rumah rekan wanitanya, Ila, di Kompleks Perumahan Pemda. Saat korban dihadang sejumlah pemuda di lorong, tak jauh rumah rekan wanitanya. Tanpa banyak tanya, Roby kemudian dipukul oleh beberapa pemuda. Diduga pemuda itu sedang mabuk. Karena tak bisa melawan, korban kemudian lari menghindari pengeroyokan.
Namun tak berapa lama kemudian, Roby yang diketahui bermukim di Jl Mallengkeri, kembali datang di lokasi kejadian. Kali Roby datang bersama beberapa rekannya dengan mengendarai sepeda motor. Mereka pun terlibat bentrok dengan belasan pemuda yang sempat menghadangnya.
"Beberapa pemuda itu ada yang terlihat membawa parang. Sedangkan dari kubu mahasiswa ada yang membawa kunci inggris," ungkap Edwar, kemarin.
Perkelahian baru reda setelah aparat dari Polsekta Rappocini tiba di lokasi dan langsung mengamankan beberapa orang yang terlibat bentrok.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Label:
Mahasiswa
Bahas Pupuk, Hanya Dihadiri 19 Anggota DPRD
Permasalahan rakyat memang kadang kurang menarik. Tak heran jika pada rapat yang secara khusus membahas kelangkaan pupuk di Gedung DPRD Sulsel anggota dewan yang hadir hanya bisa dihitung sebelah jari.
Sedikitnya tiga anggota Komisi II DPRD Sulsel ngacir saat mereka menggelar rapat kerja (raker) membahas kelangkaan pupuk bersama dinas pertanian tanaman pangan dan holtikultura di Gedung DPRD, Makassar, Selasa (25/11).
Rapat dipimpin Ketua Komisi II Ambas Syam. Hingga rapat usai, hanya lima legislator yang tetap bertahan sedangkan tiga anggota dewan, Ajeip Padindang (Golkar), Yusran Paris (PAN), dan Akmal Pasluddin satu per satu meninggalkan ruangan.
"Saya fokus menyimak materi rapat sehingga tidak memperhatikan kalau teman-teman yang keluar," kata Ambas seperti dikutip Tribun Timur, Rabu (26/11).
Saat dikonfirmasi minimnya legislator di akhir rapat, Ambas menyebut mereka meninggalkan ruangan karena pada saat bersamaan digelar rapat fraksi.
Rapat kerja penting ini dihadiri Kadis Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura, Luthfi Halide, hadir mewakil Gubernur Syahrul Yasin Limpo.
Awalnya, rapat komisi bidang ekonomi dan keuangan ini hanya dihadiri delapan dari 19 anggota komisi. Mereka yang hadir adalah Ambas, Yunus Baso (PDIP), Chaerul Tallu Rahim (Golkar), Arfandy Idris (Golkar), Akmal, Dahlan Maulana (Golkar), Radjagaoe A Basir (PDK), dan Andi Mustaman (PDK). Anggota komisi lainnya absen dengan alasan beragam. Tiga di antaranya sedang melaksnakan ibadah haji.
Materi rapat membahas kelangkaan pupuk di tingkat petani. Dari kalangan eksekutif hadir dinas pertanian, dinas perkebunan, dinas perikanan dan kelautan, badan ketahanan pangan, dinas perindustrian dan perdagangan.
Perwakilan produsen pupuk bersubsidi seperti PT Petro Kimia Gesik, PT Pupuk Kaltim, dan pimpinan PT Pupuk Sriwijaya juga hadir. Peserta raker lainnya adalah pengurus organisasi Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sulsel.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Sedikitnya tiga anggota Komisi II DPRD Sulsel ngacir saat mereka menggelar rapat kerja (raker) membahas kelangkaan pupuk bersama dinas pertanian tanaman pangan dan holtikultura di Gedung DPRD, Makassar, Selasa (25/11).
Rapat dipimpin Ketua Komisi II Ambas Syam. Hingga rapat usai, hanya lima legislator yang tetap bertahan sedangkan tiga anggota dewan, Ajeip Padindang (Golkar), Yusran Paris (PAN), dan Akmal Pasluddin satu per satu meninggalkan ruangan.
"Saya fokus menyimak materi rapat sehingga tidak memperhatikan kalau teman-teman yang keluar," kata Ambas seperti dikutip Tribun Timur, Rabu (26/11).
Saat dikonfirmasi minimnya legislator di akhir rapat, Ambas menyebut mereka meninggalkan ruangan karena pada saat bersamaan digelar rapat fraksi.
Rapat kerja penting ini dihadiri Kadis Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura, Luthfi Halide, hadir mewakil Gubernur Syahrul Yasin Limpo.
Awalnya, rapat komisi bidang ekonomi dan keuangan ini hanya dihadiri delapan dari 19 anggota komisi. Mereka yang hadir adalah Ambas, Yunus Baso (PDIP), Chaerul Tallu Rahim (Golkar), Arfandy Idris (Golkar), Akmal, Dahlan Maulana (Golkar), Radjagaoe A Basir (PDK), dan Andi Mustaman (PDK). Anggota komisi lainnya absen dengan alasan beragam. Tiga di antaranya sedang melaksnakan ibadah haji.
Materi rapat membahas kelangkaan pupuk di tingkat petani. Dari kalangan eksekutif hadir dinas pertanian, dinas perkebunan, dinas perikanan dan kelautan, badan ketahanan pangan, dinas perindustrian dan perdagangan.
Perwakilan produsen pupuk bersubsidi seperti PT Petro Kimia Gesik, PT Pupuk Kaltim, dan pimpinan PT Pupuk Sriwijaya juga hadir. Peserta raker lainnya adalah pengurus organisasi Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sulsel.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Label:
Politik
Senin, 24 November 2008
Rujab Bupati Bone Diteror Bom
Reformasi memberi kebebasan warga negeri ini untuk mengekspresikan isi hati dan pikirannnya. Perbuatan yang selama zaman Orde Baru dianggap tabu dan haram dilakukan kini sudah menjadi pemandangan rutin. Liat saja di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan, Rumah Jabatan Bupatinya diteror bom.
Rumah jabatan Bupati Bone AM Idris Galigo yang terletak di Jl Petta Ponggawae Kota Watampone, menjadi sasaran diteror bom. Sekitar pukul 16.30 wita seorang penelepon bersuara pria memberi tahu bahwa ada bom yang telah diletakkannya di pos penjagaan dan siap untuk diledakkan. Usai memberi peringatan si penelpon langsung mematikan teleponnya.
Hermanto, anggota Satpol PP Bone yang menerima telepon tersebut kemudian menelepon balik karena tiap nomor yang masuk ke telepon rujab dapat dilihat di monitor dan terdaftar. Telepon kemudian tersambung dan diangkat. Namun, penerima telepon mengaku tidak pernah menghubungi nomor rujab.
Pria tersebut mengaku tinggal di Kabupaten Maros belakang Terminal Maros dan mengaku bernama Erwin. Usai menjelaskan identitasnya, pria tersebut menutup teleponnya dan ketika Hermanto menghubungi kembali sudah dalam keadaan tidak aktif. Anggota Satpol PP yang lain kemudian menghubungi salah seorang anggota Unit Buser Polres Bone yang langsung datang menyisir area rujab.
Unit Buser kemudian meminta bantuan jajaran Polres Bone yang lain. Kapolres Bone AKBP Zarialdi didampingi Kasat Reskrim AKP M Yusuf kemudian tiba di rujab dan meminta anak buahnya melakukan penyisiran. Selama dua jam penyisiran, tidak ditemukan benda berbahaya yang menyerupai bom.
"Kami akan berkoordinasi dengan Telkomsel karena nomor yang dipakai pelaku adalah dari operator tersebut. Yang jelas kami akan terus melakukan penyelidikan," kata Yusuf seperti dilansir Tribun Timur, Selasa (25/11).
Sekitar pukul 21.00 wita, anggota jihandak Brimob Kompi C Watampone kemudian melakukan penyisiran setelah terlebih dahulu, area disterilkan. Selain anggota jihandak, diminta yang tidak berkepentingan agar berada di luar kawasan rujab yang akan disisir. Selama satu jam penyisiran, petugas juga tidak menemukan adanya tanda-tanda keberadaan bahan peledak.
Saat ini AM Idris Galigo sedang menunaikan ibadah haji. Saat kejadian, hanya ada beberapa anggota keluarga yang lain yang tinggal dalam rujab. Tidak terjadi kepanikan pada penghuni rumah. Hingga saat ini polisi masih berjaga-jaga di sekitar rujab. Ruas jalan yang berada di depan rujab ditutup dan kendaraan yang tidak berkepentingan dilarang melintas.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Label:
Peristiwa
17 Anggota DPRD Maros Terancam Jadi Tersangka
Rakyat mestinya berhato-hati memilih calon legislatif. Pengalaman menunjukkan banyak anggota legislatif yang ternyata tidak bekerja untuk rakyat tetapi bekerja untuk memperkaya diri sendiri. Tak heran jika banyak anggota yang terseret kasus korupsi dan kini menunggu giliran untuk digiring ke sel.
Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Maros, Nurzal Pewadjoi, membuat pengakuan tertulis yang membeberkan keterlibatan 17 anggota DPRD setempat dalam kasus pengadaan tiga unit mobil dinas (mobdin) yang menyeretnya sebagai tersangka kasus korupsi.
Di dalam surat yang diketik dengan komputer sebanyak dalam dua lembar yang berisi empat halaman, Nurzal menyebut Wakil Ketua DPRD Andi Fachry Makkasau (Golkar) dan Wakil Ketua DPRD dari PAN, Hatta Rahman, ikut mengetahui pengadaan mobil tersebut.
Terdapat 16 anggota panitia anggaran di DPRD Maros menyetujui pengadaan tersebut pada tahun 2004-2005, termasuk putri Bupati Maros Andi Nadjamuddin Aminullah, Andi Emma.
Surat tersebut disampaikan kepada Tribun, Senin (24/11). Kabarnya, surat tersebut juga disampaikan kepada sejumlah anggota DPRD setempat dan kepada penyidik Kejaksaan Tinggi Sulselbar di Makassar.
"Setelah menjalani pemeriksaan, sekwan membuat catatan kronologis tiga kendaraan dinas (randis) DPRD Maros untuk diserahkan kepada Kejati Sulselbar," begitu kalimat pada surat tersebut.
Dalam surat tersebut, Nurzal yang kini ditahan di Rutan Klas I Makassar mengakui pengadaan tiga unit mobil Nissan tersebut tidak sesuai prosedur.
"Jika ditelusuri kronologis dari tanggal ke tanggal, maka proses pembayaran, secara jujur saya mengakui jika proses pengadaan kendaraan tersebut tidak sesuai prosedur," katanya dalam pernyataan tersebut.
Dalam surat tersebut, Nurzal yang ditahan sejak 12 November lalu juga menuliskan kronologis proses pengadaan mobil itu terjadi.
Menurutnya, pengadaan bermula pada 24 Desember 2004.
Saat itu, Wakil Ketua DPRD Maros Andi Fahry Makkasau dinatarkan mobil Nissan oleh anggota panitia anggaran, Arfan Abdullah alias Andi Opang.
Opang dan Fahry kemudian disebut-sebut akan ditetapkan sebagai tersangkan oleh Kejaksaan Tinggi Sulselbara dalam kasus yang sama.
Selanjutnya, pada 27 Desember 2004, Fahry menggunakan kendaraan tersebut ke sekretariat DPRD. Pada 10 Januari 2005, kembali didatangkan dua unit Nissan yang diperuntukkan untuk ketua DPRD Maros Burhanuddin dan Wakil Ketua DPRD Maros Hatta Rahman.
Beberapa hari kemudian, setelah kedatangan mobil tersebut, Fahry bersama Opang memperkenalkan Faizal kepada Nurzal sebagai rekanan yang telah mengadakan tiga mobil.
Seminggu kemudian, Hatta mengganti mobil tersebut dengan Mitsubishi Grandis. Tidak cukup sepekan, mobil tersebut kemudian diganti lagi dengan Toyota Kijang Innova.
Selanjutnya, dalam buku inventaris sekretariat DPRD tercatat ada empat kendaraan dinas. Pertama, Nissan Terano Kingroad G 2, nomor polisi DD 2 DD yang kini digunakan Ketua DPRD Maros. Kedua, Kijang Innova XW 2.700 CC nomor polisi DD 551 D. Saat ini nopolnya sudah terganti dan digunakan Hatta.
Ketiga, Nissan Terrano DD 157 D. Sampai saat ini, BPKB kendaraan belum diserahkan ke sekretariat dewan padahal sesuai tanda terima pada diler, BPKB telah diserahkan pada Faizal pada 27 Desember 2004. Namun hingga tahun ini mobil tersebut belum pernah mengganti STNK.
Keempat adalah mobil Nissan Terrano DD 4 D. Mobil tersebut sekarang dipinjam pakaikan kepada Ketua Pengadilan Negeri Maros.
Nurzal mengatakan bila identitas mobil Mitsubishi Grandis tidak pernah disampaikan secara resmi kepadanya. Untuk mengakomodasi pengadaan kendaraan tersebut dalam APBD 2005, maka sekretariat membuat rencana anggaran satuan kerja (RASK) dan mengusulkan pengadaan kendaraan sebanyak tiga unit.
Ketiganya mobil Nissan Terano sebesar Rp 1.032.675.000.
Selanjutnya, 7 Maret 2005, ketua DPRD menyetujui pembayaran dengan panjar sebelum APBD ditetapkan dengan pertimbangan rekanan mendesak.
Pada tanggal yang sama, Kabag Keuangan Syamsul Fahry menerbitkan surat permintaan pembayaran barang. Pada proses pembahasan RAPBD yang selanjutnya disahkan menjadi APBD TA 2005 ternyata nilainya menjadi Rp sudah menjadi Rp 1.070.000.000.
Lalu pada 3 Maret 2005 dikeluarkan persetujuan pembayaran panjar.
Atas dasar surat tersebut, kas daerah membayar ke rekanan CV Bina Kale yang merupakan perusahaan yang digunakan Faisal.
Oleh pihak Bawasda Provinsi Sulsel ditemukan adanya kelebihan pembelian Rp 412.000.000. Dalam pernyataannya, Faisal sempat mengatakan akan mengembalikan kelebihan tersebut pada negara. Faisal masih menjadi buronan.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Maros, Nurzal Pewadjoi, membuat pengakuan tertulis yang membeberkan keterlibatan 17 anggota DPRD setempat dalam kasus pengadaan tiga unit mobil dinas (mobdin) yang menyeretnya sebagai tersangka kasus korupsi.
Di dalam surat yang diketik dengan komputer sebanyak dalam dua lembar yang berisi empat halaman, Nurzal menyebut Wakil Ketua DPRD Andi Fachry Makkasau (Golkar) dan Wakil Ketua DPRD dari PAN, Hatta Rahman, ikut mengetahui pengadaan mobil tersebut.
Terdapat 16 anggota panitia anggaran di DPRD Maros menyetujui pengadaan tersebut pada tahun 2004-2005, termasuk putri Bupati Maros Andi Nadjamuddin Aminullah, Andi Emma.
Surat tersebut disampaikan kepada Tribun, Senin (24/11). Kabarnya, surat tersebut juga disampaikan kepada sejumlah anggota DPRD setempat dan kepada penyidik Kejaksaan Tinggi Sulselbar di Makassar.
"Setelah menjalani pemeriksaan, sekwan membuat catatan kronologis tiga kendaraan dinas (randis) DPRD Maros untuk diserahkan kepada Kejati Sulselbar," begitu kalimat pada surat tersebut.
Dalam surat tersebut, Nurzal yang kini ditahan di Rutan Klas I Makassar mengakui pengadaan tiga unit mobil Nissan tersebut tidak sesuai prosedur.
"Jika ditelusuri kronologis dari tanggal ke tanggal, maka proses pembayaran, secara jujur saya mengakui jika proses pengadaan kendaraan tersebut tidak sesuai prosedur," katanya dalam pernyataan tersebut.
Dalam surat tersebut, Nurzal yang ditahan sejak 12 November lalu juga menuliskan kronologis proses pengadaan mobil itu terjadi.
Menurutnya, pengadaan bermula pada 24 Desember 2004.
Saat itu, Wakil Ketua DPRD Maros Andi Fahry Makkasau dinatarkan mobil Nissan oleh anggota panitia anggaran, Arfan Abdullah alias Andi Opang.
Opang dan Fahry kemudian disebut-sebut akan ditetapkan sebagai tersangkan oleh Kejaksaan Tinggi Sulselbara dalam kasus yang sama.
Selanjutnya, pada 27 Desember 2004, Fahry menggunakan kendaraan tersebut ke sekretariat DPRD. Pada 10 Januari 2005, kembali didatangkan dua unit Nissan yang diperuntukkan untuk ketua DPRD Maros Burhanuddin dan Wakil Ketua DPRD Maros Hatta Rahman.
Beberapa hari kemudian, setelah kedatangan mobil tersebut, Fahry bersama Opang memperkenalkan Faizal kepada Nurzal sebagai rekanan yang telah mengadakan tiga mobil.
Seminggu kemudian, Hatta mengganti mobil tersebut dengan Mitsubishi Grandis. Tidak cukup sepekan, mobil tersebut kemudian diganti lagi dengan Toyota Kijang Innova.
Selanjutnya, dalam buku inventaris sekretariat DPRD tercatat ada empat kendaraan dinas. Pertama, Nissan Terano Kingroad G 2, nomor polisi DD 2 DD yang kini digunakan Ketua DPRD Maros. Kedua, Kijang Innova XW 2.700 CC nomor polisi DD 551 D. Saat ini nopolnya sudah terganti dan digunakan Hatta.
Ketiga, Nissan Terrano DD 157 D. Sampai saat ini, BPKB kendaraan belum diserahkan ke sekretariat dewan padahal sesuai tanda terima pada diler, BPKB telah diserahkan pada Faizal pada 27 Desember 2004. Namun hingga tahun ini mobil tersebut belum pernah mengganti STNK.
Keempat adalah mobil Nissan Terrano DD 4 D. Mobil tersebut sekarang dipinjam pakaikan kepada Ketua Pengadilan Negeri Maros.
Nurzal mengatakan bila identitas mobil Mitsubishi Grandis tidak pernah disampaikan secara resmi kepadanya. Untuk mengakomodasi pengadaan kendaraan tersebut dalam APBD 2005, maka sekretariat membuat rencana anggaran satuan kerja (RASK) dan mengusulkan pengadaan kendaraan sebanyak tiga unit.
Ketiganya mobil Nissan Terano sebesar Rp 1.032.675.000.
Selanjutnya, 7 Maret 2005, ketua DPRD menyetujui pembayaran dengan panjar sebelum APBD ditetapkan dengan pertimbangan rekanan mendesak.
Pada tanggal yang sama, Kabag Keuangan Syamsul Fahry menerbitkan surat permintaan pembayaran barang. Pada proses pembahasan RAPBD yang selanjutnya disahkan menjadi APBD TA 2005 ternyata nilainya menjadi Rp sudah menjadi Rp 1.070.000.000.
Lalu pada 3 Maret 2005 dikeluarkan persetujuan pembayaran panjar.
Atas dasar surat tersebut, kas daerah membayar ke rekanan CV Bina Kale yang merupakan perusahaan yang digunakan Faisal.
Oleh pihak Bawasda Provinsi Sulsel ditemukan adanya kelebihan pembelian Rp 412.000.000. Dalam pernyataannya, Faisal sempat mengatakan akan mengembalikan kelebihan tersebut pada negara. Faisal masih menjadi buronan.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Label:
Korupsi
Gara-gara Tapal Batas, Nyawa Melayang
Di era yang serba sulit ini, nyawa kadang menjadi sangat murah. Seperti insiden yang terjadi perbatasan Kabupaten Gowa-Kabupaten Takalar, sekitar 30 kilometer selatan Kota Makassar. Bentrok warga ini menyebabkan tiga orang tewas.
Gara-gara memperebutkan lahan di tapal batas, tiga orang terpaksa melayang nyawanya menyusul bentrokan antar-warga yang memperebutkan lahan seluas 1,45 hektare di perbatasan Kabupaten Gowa dengan Takalar, Minggu (23/11).
Bentrokan melibatkan warga Dusun Bilampang, Desa Tanakaraeng, Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa dengan warga Dusun Jene Tallasa, Desa Toata, Kecamatan Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar.
Salah satu korban yang tewas adalah adalah Kepala Dusun Jene Tallasa, Takalar, Daeng Nompo (45). Sedangkan dua korban tewas lainnya adalah warga Gowa, Saharudin Daeng Lawa' (45) dan Daeng Rahim (60) yang juga mertua Saharudin.
Satu orang korban lainnya, Baharudin Daeng Nompo (41), saudara Haerudin, dilarikan ke Rumah Sakit Umum (RSU) Dr Wahidin Sudirohusodo, Makassat, karena mengalami luka parah. Hingga tadi malam, korban masih dalam keadaan kritis dan menjalani operasi di RSU Wahidin.
Bentrokan juga menyebabkan satu rumah warga di wilayah Gowa dibakar oleh kelompok warga dari wilayah Takalar yang menyerang desa bertetangga tersebut.
Rumah yang terbakar adalah milik Mamak Daeng Pasang (45). Rumah terbuat dari kayu tersebut habis terbakar dan hanya menyisakan atap seng saja.
Mamak diamankan ke Mapolres Gowa. Dia dimintai keterangan karena diduga sebagai pelaku pembunuhan Dg Nompo.
Untuk meredakan ketegangan, aparat kepolisian dari Polresta Gowa dan Polres Takalar dikerahkan ke lokasi untuk meredam ketegangan.
"Kita sementara tempatkan 15 polisi di sekitar rumah duka. Situasi sudah bisa dikendalikan. Tim masih melakukan penyelidikan dan memeriksa sejumlah saksi," kata Kapolresta Gowa AKBP Raden Purwadi seperti dikutip Tribun Timur, Senin(24/11).
Informasi yang dihimpun menyebutkan, kejadian berawal saat salah satu kelompok bermaksud menanam jagung di lahan tersebut. Namun kejadian tersebut memancing amarah kelompok lain. Kedua pihak tidak mau mengalah dan akhirnya terjadilah persitiwa berdarah tersebut.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Gara-gara memperebutkan lahan di tapal batas, tiga orang terpaksa melayang nyawanya menyusul bentrokan antar-warga yang memperebutkan lahan seluas 1,45 hektare di perbatasan Kabupaten Gowa dengan Takalar, Minggu (23/11).
Bentrokan melibatkan warga Dusun Bilampang, Desa Tanakaraeng, Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa dengan warga Dusun Jene Tallasa, Desa Toata, Kecamatan Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar.
Salah satu korban yang tewas adalah adalah Kepala Dusun Jene Tallasa, Takalar, Daeng Nompo (45). Sedangkan dua korban tewas lainnya adalah warga Gowa, Saharudin Daeng Lawa' (45) dan Daeng Rahim (60) yang juga mertua Saharudin.
Satu orang korban lainnya, Baharudin Daeng Nompo (41), saudara Haerudin, dilarikan ke Rumah Sakit Umum (RSU) Dr Wahidin Sudirohusodo, Makassat, karena mengalami luka parah. Hingga tadi malam, korban masih dalam keadaan kritis dan menjalani operasi di RSU Wahidin.
Bentrokan juga menyebabkan satu rumah warga di wilayah Gowa dibakar oleh kelompok warga dari wilayah Takalar yang menyerang desa bertetangga tersebut.
Rumah yang terbakar adalah milik Mamak Daeng Pasang (45). Rumah terbuat dari kayu tersebut habis terbakar dan hanya menyisakan atap seng saja.
Mamak diamankan ke Mapolres Gowa. Dia dimintai keterangan karena diduga sebagai pelaku pembunuhan Dg Nompo.
Untuk meredakan ketegangan, aparat kepolisian dari Polresta Gowa dan Polres Takalar dikerahkan ke lokasi untuk meredam ketegangan.
"Kita sementara tempatkan 15 polisi di sekitar rumah duka. Situasi sudah bisa dikendalikan. Tim masih melakukan penyelidikan dan memeriksa sejumlah saksi," kata Kapolresta Gowa AKBP Raden Purwadi seperti dikutip Tribun Timur, Senin(24/11).
Informasi yang dihimpun menyebutkan, kejadian berawal saat salah satu kelompok bermaksud menanam jagung di lahan tersebut. Namun kejadian tersebut memancing amarah kelompok lain. Kedua pihak tidak mau mengalah dan akhirnya terjadilah persitiwa berdarah tersebut.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Sabtu, 22 November 2008
Bersih-bersih Preman di Makassar
Aparat kepolisian di Makassar terus membersihkan preman yang sering mengganggu ketenangan warga Makassar. Baik di mal maupun tempat-tempat strategis yang sering dikunjungi warga.
Kepolisian Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KPPP) Makassar berhasil menciduk 33 preman yang sehari-hari berpangkalan di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Jumat (21/11), dalam operasi bertajuk Operasi Cipta Kondisi yang dipimpin Kapolresta KPPP AKBP Sri Rejeki.
Sebelum ditangkap sejumlah preman terlibat aksi saling kejar-kejaran dengan aparat kepolisian.
Selain preman pihak kepolisian juga menahan penjual asongan yang selama ini naik ke kapal menggelar tikar dan memaksa penumpang kapal membeli tikar mereka.
"Biasanya mereka membawa tikar ke atas kapal kemudian memaksa penumpang yang tidak memiliki tempat untuk membeli tikar mereka," kata Sri seperti dikutip Tribun Timur, Sabtu (22/11).
Hingga saat ini jajaran Kepolisian Wilayah Kota Besar Makassar gencar melakukan Operasi Cipta Kondisi dan berhasil mengamankan 264 preman dan 3.923 botol minuman keras dari berbagai merek.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Kepolisian Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KPPP) Makassar berhasil menciduk 33 preman yang sehari-hari berpangkalan di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Jumat (21/11), dalam operasi bertajuk Operasi Cipta Kondisi yang dipimpin Kapolresta KPPP AKBP Sri Rejeki.
Sebelum ditangkap sejumlah preman terlibat aksi saling kejar-kejaran dengan aparat kepolisian.
Selain preman pihak kepolisian juga menahan penjual asongan yang selama ini naik ke kapal menggelar tikar dan memaksa penumpang kapal membeli tikar mereka.
"Biasanya mereka membawa tikar ke atas kapal kemudian memaksa penumpang yang tidak memiliki tempat untuk membeli tikar mereka," kata Sri seperti dikutip Tribun Timur, Sabtu (22/11).
Hingga saat ini jajaran Kepolisian Wilayah Kota Besar Makassar gencar melakukan Operasi Cipta Kondisi dan berhasil mengamankan 264 preman dan 3.923 botol minuman keras dari berbagai merek.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Label:
polisi
Langganan:
Postingan (Atom)
