Oknum mahasiswa pesta narkoba? Informasi sangat miris. Karena mahasiswa yang seharusnya menuntut ilmu justru kedapatan berpesta narkoba di sebuah hotel. Apalagi, lokasi hotel tersebut terletak di kawasan yang diketahui umum sebagai daerah tempat yang banyak dikunjungi pria hidung belang.
Aparat keamanan dari Unit Khusus Mapolresta Makassar Timur mengamankan seorang oknum mahasiswa yang sedang pesta narkoba di salah satu hotel di kawasan Jl Nusantara Makassar.
Gerak-gerik warga Jl Tidung Makassar ini rupanya sudah lama diiintai oleh aparat kepolisian karena ditengarai sebagai pengedar narkoba di kalangan mahasiswa. Polisi mengamankan 50 butir ekstasi jenis inex di lokasi penangkapan.
Tribun Timur, hari ini, memberitakan, mahasiswa bernama Faisal itu mengaku menjual barang yang disita polisi itu sekitar Rp 200 hingga Rp 250 ribu per butir. Faizal mengaku barang bermerek JBL berwarna merah muda tersebut diperoleh dari Aminuddin, warga Jl Sultan Alauddin II, Makassar.
Atas informasi itu aparat kepolisian melakukan penggerebekan di rumah Aminuddin dan berhasil menyita tiga paket kecil narkoba jenis sabu-sabu. Aminuddin ternyata mantan polisi dari Satuan Samapta Polwil Parepare yang diberhentikan dari kepolisian dengan tidak terhormat (PTDH ) karena terlibat dalam kasus narkoba dan sejumlah kasus suap.(rusdy embas)
Selengkapnya...
Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Senin, 10 Mei 2010
Selasa, 27 April 2010
Aduh… Makassar Memanas Lagi
Perselihan dua kelompok mahasiswa salah satu kampus perguruan tinggi swasta di Makassar berbuntut panjang. Sejumlah kawasan kos-kosan menjadi sasaran penyerangan yang menyebabkan sejumlah mahasiswa terluka akibat tusukan benda tajam.
Apapun pemicu dan motifnya, aksi ini sangat disayangkan. Sejumlah mahasiswa yang tidak tahu duduk perkara justru menjadi korban. Mereka terpaksa mengungsi karena takut diserang. Mereka menjadi sasaran balas dendam.
Insiden ini menunjukkan ada masalah mendasar yang mesti dibenahi. Identitas daerah memang kadang menjadi bagian terpenting bagi pengembangan diri dan kelompok jika dilakukan untuk tujuan positif dan memacu prestasi.
Tetapi identitas daerah ini kadang menjadi bumerang dan entry point bagi kelompok tertentu untuk menciptakan malapetaka.
Betapa mengerikannya, jika merupakan bagian dari kelompok yang dikejar-kejar. Padahal kita sendiri tidak tahu duduk perkara yang dipersengketakan.
Kesepakatan dua kelompok untuk mengakhiri perselihan tersebut dan menyerahkan kepada aparat keamanan untuk menyelesaikannya perlu diapresiasi agar Makassar tetap kondusip untuk semua kelompok.(rusdy embas)
Selengkapnya...
Label:
Mahasiswa
Senin, 04 Mei 2009
Tolak BHP, 65 Mahasiswa Ditangkap
Sekelompok anak muda bercelana jeans, berkaos hitam memakai helm dan cadar hitam melemparkan batu ke arah petugas keamanan. Batu berceceran di jalan yang saban hari padat kendaraan. Pemandangan seperti tidak hanya terjadi di Jalur Gaza Palestina, tetapi menjadi tontonan gratis warga Makassar yang kebetulan lewat di depan kantor Gubernur Sulsel, Senin (5/5). Koran berpengaruh di Makassar, Tribun Timur, secara apik menyajikan foto-foto aksi mahasiwa dan reaksi polisi terkait unjuk rasa tersebut.
Sekitar 1.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi se-Makassar bentrok dengan aparat kepolisian saat para mahasiswa itu unjuk rasa menolak Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (BHP) di depan Kantor Pemprov Sulsel. Insiden itu menyebabkan 17 polisi terluka dan 65 mahasiswa ditangkap. Jalan poros yang merupakan akses terpadat dari Bandara Sultan Hasanuddin ker Kota Makassar itu pun macet sekitar tiga jam lamanya.
Akibat insiden tersebut, sekitar 65 mahasiswa diamankan polisi. Sejumlah mahasiswa juga dilaporkan mengalami luka terkena batu dan pentungan polisi. Sementara 16 personel Brimob Polda Sulselbar mengalami luka karena terkena lemparan batu. Seorang anggota Resmob Polda Sulselbar mengalami luka serius di bagian bibir karena terkena pukulan oleh polisi lain.
Mahasiswa mendatangi kantor gubernur untuk menyampaikan aspirasi mereka di kantor gubernur. Namun polisi meminta agar mahasiswa hanya diwakili oleh perwakilan. Mahasiswa ngotot untuk masuk secara bersama. Saat kejadian, Gubernur Syahrul Yasin Limpo tidak berada di kantornya karena sedang menghadiri Hari Ulang Tahun (HUT) Luwu Timur di Malili.
Menyusul bentrokan tersebut, Jl Urip Sumoharjo sempat ditutup selama hampir tiga jam. Akibatnya, terjadi kemacetan di sejumlah ruas jalan di sekitar Jl AP Pettarani seperti Jl Abd Dg Sirua, Jl Racing Canter.
Ini adalah bentrokan pertama antara polisi dengan mahasiswa pada tahun ini terkait dengan penolakan UU BHP. Selama tahun 2008, juga terjadi beberapa kali bentrokan antara mahasiswa dengan polisi. Salah satunya, adalah penyerbuan polisi ke kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) yang menyebabkan tiga mahasiswa luka parah akibat dianiaya.
Demo kemarin diawali konvoi mahasiswa yang menamakan diri Komite Aksi Cabut UU BHP (Kacau BHP). Awalnya, demo berjalan aman sejak dari Jl AP Pettarani hingga ke kantor gubernur.
Aksi berubah menjadi anarkis saat salah seorang perwira polisi meminta agar hanya perwakilan dari mahasiswa berdialog dengan pejabat di kantor gubernur.
Ajakan tersebut tidak ditolak. Seluruh mahasiswa memaksa untuk masuk. Bentrokan pun tak terhindarkan yang didahului dengan aksi lemparan batu. Beberapa mahasiswa yang berorasi di atas salah satu mobil yang diparkir depan kantor gubernur juga dibubarkan oleh polisi.
Suasana saat itu berubah menjadi aksi kejar-kejaran antara polisi dengan mahasiswa. Mahasiswa berlarian menyelamatkan diri menuju area kantor gubernuran. Sebagian lainnya, karena terdesak oleh puluhan personel polisi, menyelamatkan diri dengan melompati pagar kantor gubernur disertai dengan lemparan batu.
Massa pun terpecah menjadi dua bagian, puluhan mahasiswa didesak mundur hingga mendekati salah satu SPBU di depan lahan bekas Terminal Panaikang. Sebagian mahasiswa lainnya bergabung di depan pintu masuk UMI. Polisi yang sudah melihat aksi mahasiswa yang berubah menjadi anarkis, akhirnya mengeluarkan tembakan peringatan. Bahkan beberapa kali mengeluarakan tembakan gas air mata.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Sekitar 1.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi se-Makassar bentrok dengan aparat kepolisian saat para mahasiswa itu unjuk rasa menolak Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (BHP) di depan Kantor Pemprov Sulsel. Insiden itu menyebabkan 17 polisi terluka dan 65 mahasiswa ditangkap. Jalan poros yang merupakan akses terpadat dari Bandara Sultan Hasanuddin ker Kota Makassar itu pun macet sekitar tiga jam lamanya.
Akibat insiden tersebut, sekitar 65 mahasiswa diamankan polisi. Sejumlah mahasiswa juga dilaporkan mengalami luka terkena batu dan pentungan polisi. Sementara 16 personel Brimob Polda Sulselbar mengalami luka karena terkena lemparan batu. Seorang anggota Resmob Polda Sulselbar mengalami luka serius di bagian bibir karena terkena pukulan oleh polisi lain.
Mahasiswa mendatangi kantor gubernur untuk menyampaikan aspirasi mereka di kantor gubernur. Namun polisi meminta agar mahasiswa hanya diwakili oleh perwakilan. Mahasiswa ngotot untuk masuk secara bersama. Saat kejadian, Gubernur Syahrul Yasin Limpo tidak berada di kantornya karena sedang menghadiri Hari Ulang Tahun (HUT) Luwu Timur di Malili.
Menyusul bentrokan tersebut, Jl Urip Sumoharjo sempat ditutup selama hampir tiga jam. Akibatnya, terjadi kemacetan di sejumlah ruas jalan di sekitar Jl AP Pettarani seperti Jl Abd Dg Sirua, Jl Racing Canter.
Ini adalah bentrokan pertama antara polisi dengan mahasiswa pada tahun ini terkait dengan penolakan UU BHP. Selama tahun 2008, juga terjadi beberapa kali bentrokan antara mahasiswa dengan polisi. Salah satunya, adalah penyerbuan polisi ke kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) yang menyebabkan tiga mahasiswa luka parah akibat dianiaya.
Demo kemarin diawali konvoi mahasiswa yang menamakan diri Komite Aksi Cabut UU BHP (Kacau BHP). Awalnya, demo berjalan aman sejak dari Jl AP Pettarani hingga ke kantor gubernur.
Aksi berubah menjadi anarkis saat salah seorang perwira polisi meminta agar hanya perwakilan dari mahasiswa berdialog dengan pejabat di kantor gubernur.
Ajakan tersebut tidak ditolak. Seluruh mahasiswa memaksa untuk masuk. Bentrokan pun tak terhindarkan yang didahului dengan aksi lemparan batu. Beberapa mahasiswa yang berorasi di atas salah satu mobil yang diparkir depan kantor gubernur juga dibubarkan oleh polisi.
Suasana saat itu berubah menjadi aksi kejar-kejaran antara polisi dengan mahasiswa. Mahasiswa berlarian menyelamatkan diri menuju area kantor gubernuran. Sebagian lainnya, karena terdesak oleh puluhan personel polisi, menyelamatkan diri dengan melompati pagar kantor gubernur disertai dengan lemparan batu.
Massa pun terpecah menjadi dua bagian, puluhan mahasiswa didesak mundur hingga mendekati salah satu SPBU di depan lahan bekas Terminal Panaikang. Sebagian mahasiswa lainnya bergabung di depan pintu masuk UMI. Polisi yang sudah melihat aksi mahasiswa yang berubah menjadi anarkis, akhirnya mengeluarkan tembakan peringatan. Bahkan beberapa kali mengeluarakan tembakan gas air mata.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Label:
Mahasiswa
Selasa, 02 Desember 2008
Mahasiswa Kembangkan Tanaman Organik
Jangan menganggap mahasiswa Makassar hanya mampu berunjuk rasa dan berantem sesama mahasiswa. Masih banyak sisi positif yang mereka lakukan yang tidak tidak diketahui publik. Lihatlah apa yang dilakukan mahasiswa Fakultas Pertanian Unhas.
Berangkat dari kekhawatiran terhadap pola hidup yang serba instan, khususnya masyarakat perkotaan. Sekelompok mahasiswa jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Universitas, Fakultas Pertanian, Hasanuddin (Unhas), membentuk kelompok diskusi sekaligus mengelola kebun yang menghasilkan tanman organik yang bebas dari pestisida sintetik. Luas kebun tanaman organik ini mencapai 1 hektare yang terletak di belakang kampus Politeknik Negeri Ujung Pandang, Tamalanrea.
Usai kuliah, para mhasiswa langsung ke kebun organik untuk mengecek tanaman mereka. Suasananya pun seperti berada di kebun yang ada di perkampungan karena dilengkapi rumah kebun.
Dosen Pembimbing yang juga Kepala Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan, Prof Dr Sylvia Sjam MS, mengatakan, awalnya kebun tanamaan organik ini hanyalah merupakan lahan yang depenuhi rumput liar yang kemudian dikelola menjadi kebun oleh mahasiswa.
"Lahan ini dijadikan mahasiswa sebagai tempat mengaplikasikan teori yang didapat di kelas kemudian dipraktikkan. Tenyata mereka suka, bahkan mereka mengatakan teori yang didapatkan itu jauh berbeda dengan yang ada di lapangan," kata Sylvia seperti dilansir Tribun Timur, Rabu (3/12).
Di sini mahasiswa belajar cara membuat pupuk cair dan pestisida alami yang didapat langsung dari alam. Pupuk dan pestisida alami ini tidak berbahaya bagi tubuh. Saat ini sejumlah tanaman sayur sudah diproduksi, di antaranya bayam merah dan hijau, tomat, lombok, kacang panjang, dan labu.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Berangkat dari kekhawatiran terhadap pola hidup yang serba instan, khususnya masyarakat perkotaan. Sekelompok mahasiswa jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Universitas, Fakultas Pertanian, Hasanuddin (Unhas), membentuk kelompok diskusi sekaligus mengelola kebun yang menghasilkan tanman organik yang bebas dari pestisida sintetik. Luas kebun tanaman organik ini mencapai 1 hektare yang terletak di belakang kampus Politeknik Negeri Ujung Pandang, Tamalanrea.
Usai kuliah, para mhasiswa langsung ke kebun organik untuk mengecek tanaman mereka. Suasananya pun seperti berada di kebun yang ada di perkampungan karena dilengkapi rumah kebun.
Dosen Pembimbing yang juga Kepala Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan, Prof Dr Sylvia Sjam MS, mengatakan, awalnya kebun tanamaan organik ini hanyalah merupakan lahan yang depenuhi rumput liar yang kemudian dikelola menjadi kebun oleh mahasiswa.
"Lahan ini dijadikan mahasiswa sebagai tempat mengaplikasikan teori yang didapat di kelas kemudian dipraktikkan. Tenyata mereka suka, bahkan mereka mengatakan teori yang didapatkan itu jauh berbeda dengan yang ada di lapangan," kata Sylvia seperti dilansir Tribun Timur, Rabu (3/12).
Di sini mahasiswa belajar cara membuat pupuk cair dan pestisida alami yang didapat langsung dari alam. Pupuk dan pestisida alami ini tidak berbahaya bagi tubuh. Saat ini sejumlah tanaman sayur sudah diproduksi, di antaranya bayam merah dan hijau, tomat, lombok, kacang panjang, dan labu.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Label:
Mahasiswa
Rabu, 26 November 2008
Warga Perumahan Bentrok dengan Mahasiswa
Gara-gara dihadang seusai bertamu di rumah teman wanitanya di sebuah kompleks perumahan, seorang mahasiswa mengajak rekan-rekannya untuk mendatangi kelompok pemuda yang telah menghadangnya.
Sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) terlibat bentrok dengan puluhan warga Kompleks Perumahan Pemda, Jl Mappala, Makassar, Senin (24/11) tengah malam. Akibatnya seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi UNM bernama Roby (17) mengalami luka di pelipis kirinya.
Polisi kemudian menetapkan lima tersangka dalam bentrokan tersebut. Terdiri empat orang dari kubu warga yakni Unang, Anto, Didi, M Adil dan seorang dari kubu mahasiswa berinisial Ar. Hingga tadi malam, kelimanya masih mendekam di bilik jeruji besi Markas Polresta Rappocini.
Kepala Unit Reskrim Polsekta Rappocini Iptu Edwar yang dikutip Tribun Timur, Rabu (26/11), menceritakan, bentrokan itu bermula saat Roby baru saja pulang dari rumah rekan wanitanya, Ila, di Kompleks Perumahan Pemda. Saat korban dihadang sejumlah pemuda di lorong, tak jauh rumah rekan wanitanya. Tanpa banyak tanya, Roby kemudian dipukul oleh beberapa pemuda. Diduga pemuda itu sedang mabuk. Karena tak bisa melawan, korban kemudian lari menghindari pengeroyokan.
Namun tak berapa lama kemudian, Roby yang diketahui bermukim di Jl Mallengkeri, kembali datang di lokasi kejadian. Kali Roby datang bersama beberapa rekannya dengan mengendarai sepeda motor. Mereka pun terlibat bentrok dengan belasan pemuda yang sempat menghadangnya.
"Beberapa pemuda itu ada yang terlihat membawa parang. Sedangkan dari kubu mahasiswa ada yang membawa kunci inggris," ungkap Edwar, kemarin.
Perkelahian baru reda setelah aparat dari Polsekta Rappocini tiba di lokasi dan langsung mengamankan beberapa orang yang terlibat bentrok.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) terlibat bentrok dengan puluhan warga Kompleks Perumahan Pemda, Jl Mappala, Makassar, Senin (24/11) tengah malam. Akibatnya seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi UNM bernama Roby (17) mengalami luka di pelipis kirinya.
Polisi kemudian menetapkan lima tersangka dalam bentrokan tersebut. Terdiri empat orang dari kubu warga yakni Unang, Anto, Didi, M Adil dan seorang dari kubu mahasiswa berinisial Ar. Hingga tadi malam, kelimanya masih mendekam di bilik jeruji besi Markas Polresta Rappocini.
Kepala Unit Reskrim Polsekta Rappocini Iptu Edwar yang dikutip Tribun Timur, Rabu (26/11), menceritakan, bentrokan itu bermula saat Roby baru saja pulang dari rumah rekan wanitanya, Ila, di Kompleks Perumahan Pemda. Saat korban dihadang sejumlah pemuda di lorong, tak jauh rumah rekan wanitanya. Tanpa banyak tanya, Roby kemudian dipukul oleh beberapa pemuda. Diduga pemuda itu sedang mabuk. Karena tak bisa melawan, korban kemudian lari menghindari pengeroyokan.
Namun tak berapa lama kemudian, Roby yang diketahui bermukim di Jl Mallengkeri, kembali datang di lokasi kejadian. Kali Roby datang bersama beberapa rekannya dengan mengendarai sepeda motor. Mereka pun terlibat bentrok dengan belasan pemuda yang sempat menghadangnya.
"Beberapa pemuda itu ada yang terlihat membawa parang. Sedangkan dari kubu mahasiswa ada yang membawa kunci inggris," ungkap Edwar, kemarin.
Perkelahian baru reda setelah aparat dari Polsekta Rappocini tiba di lokasi dan langsung mengamankan beberapa orang yang terlibat bentrok.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Label:
Mahasiswa
Kamis, 20 November 2008
Mahasiswa Makassar Bentrok Lagi
Bentrok antar sesama mahasiswa sepertinya sudah menjadi tren di Makassar. Saling serang di antara mereka seolah menjadi mata kuliah rutin yang tak boleh dilewatkan. Saking gemarnya berantem dan melihat teman sendiri tergeletak bergelimang darah, maka jangan heran jika banyak senjata tajam yang menjadi koleksi mahasiswa yang tersimpan di dalam kampus. Papporo, anak panah dan senjata rakitan lainnya sudah bukan barang aneh lagi bagi mahasiswa yang merasa diri hebat ini.
Bentrok antarsesama mahasiswa Universitas 45 Makassar terjadi lagi, Rabu (19/11). Saling serang itu melibatkan mahasiswa dari fakultas hukum dan teknik di universitas yang didirikan salah satu tokoh Sulsel, Andi Sose. Akibatnya, Ersal, mahasiswa Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas 45 angkatan 2008 dilaporkan kritis.
Ersal mengalami luka cukup serius. Di tubuhnya, ada empat luka yang diduga kuat karena terkena tikaman. Korban sekarang dirawat di RS Ibnu Sina, samping Kampus Universitas 45 Makassar.
Bentrokan baru bisa diredakan setelah puluhan polisi dari Polresta Makassar Timur yang di-back-up Polwiltabes Makassar tiba di lokasi kejadian. Sejumlah barang bukti seperti parang, anak panah, ketapel, kayu, dan puluhan botol minuman keras berbagai merek ditemukan polisi di beberapa lokasi dalam kampus tersebut.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas 45 Makassar Natsir Abduh yang dikutip Tribun Timur (Kamis, 20/11) mengatakan, bentrokan berawal dengan aksi penutupan pintu gerbang kampus yang dilakukan mahasiswa fakultas teknik sebagai protes atas keputusan Senat Universitas 45 yang memecat dua mahasiswa. Salah seorang di antaranya adalah Amri, mahasiswa fakultas teknik yang berdasarkan hasil investigasi internal univeritas, Amri diketahui sebagai pelaku pemarangan terhadap seorang mahasiswa fakultas hukum saat insiden pertama yang terjadi, 3 November 2008 lalu. Insiden ini juga melibatkan mahasiswa dari fakultas teknik melawan fakultas hukum.
Seorang mahasiswa fakultas hukum, bernama Imran, juga ikut dipecat.
Kesalahannya karena dianggap sebagai pemicu insiden pertama.
Imran juga sudah tiga semester tidak terdaftar sebagai mahasiswa fakultas hukum.
Namun pemecetan itu tidak mendapat protes dari mahasiswa fakultas hukum. Hanya mahasiswa fakultas teknik yang tak puas.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Label:
Mahasiswa
Minggu, 19 Oktober 2008
Mahasiswa UIM Tawuran, 3 Luka
Puluhan mahasiswa Universitas Islam Makassar (UIM) terlibat tawuran di kampus mereka di Jl Perintis Kemerdekaan, Tamalanrea, Makassar Sabtu (18/10) sore.
Bentrokan antara mahasiswa dari fakultas teknik dan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini menyebabkan tiga orang luka. Apa pemicu sehingga ada bentrokan di perguruan tinggi yang diketuai Jusuf Kalla ini?
Informasi yang diperoleh di lokasi kejadian, tawuran berlangsung dua kali. Tawuran pertama berlangsung sekitar pukul 11.00 wita disusul kejadian serupa sekitar pukul 15.00.
Tawuran diduga berawal dari salah seorang mahasiswa FT yang disenggol oleh salah seorang pengendara sepeda motor. Mahasiswa FT mencuriga pelakunya aktivis PMII Komisariat UIM.
Akibatnya puluhan mahasiswa FT menyerang sekretariat PMII dan sekretariat BEM FISIP. Aktivis PMII di kampus tersebut memang didominasi mahasiswa FISIP sehingga terjadi saling lempar batu.
Tawuran baru berhenti setelah polisi dari Polsekta Tamalanrea dan personel dari Polresta Makassar Timur tiba di lokasi melerai kedua kelompok.
Sehari sebelumnya, mahasiswa dari BEM FT sempat bersitegang dengan pengurus PMII karena BEM FT melarang mahasiswa baru mengikuti pengkaderan PMII usai mengikuti pesantren kilat yang digelar universitas.
Pasca bentrok tersebut aparat Polsekta Tamalanrea dan Polresta Makassar Timur tetap disiagakan di kampus yang dulunya bernama Universitas Al Gazali Makassar itu untuk mencegah kemungkinan terjadinya bentrokan ulang.
Tiga mahasiswa yang terluka dalam bentrokan tersebut masing-masing Abdul Latief Dakosta, dilarikan ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo karena mengalami luka berat akibat terkena hantaman balok di bagian dada dan lengan.
Dua korban lainnya adalah Sultan dan Arman mengalami luka akibat terkena lemparan batu. Ketiga korban adalah aktivis PMII dan mahasiswa FISIP UIM.
Selain korban luka, beberapa kaca masjid dan sekretariat PMII dan BEM FISIP juga rusak. Sebanyak 17 mahasiswa diamankan dan menjalani pemeriksaan di Markas Polwiltabes Makassar, hingga tadi malam.
Ke-17 mahasiswa itu terdiri atas kedua kelompok yang bertikai. Dari 17 mahasiswa yang diamankan itu, dua di antaranya yakni Iskandar dan Muji alias Moja diduga sebagai pemicu tawuran tersebut. Keduanya adalah mahasiswa FT.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Label:
Mahasiswa
Kamis, 16 Oktober 2008
Jam Malam di UNM
Pimpinan Universitas Negeri Makassar (UNM) mengambil keputusan tegas melarang mahasiswa menginap dan tinggal di area kampus pada malam hari. Keputusan pemberlakuan jam malam bagi mahasiswa di kampus tersebut lahir menindaklanjuti mandat Rapat Senat Universitas yang berlangsung 26 September lalu.
"Senat universitas memberi mandat kepada rektor untuk segera mengambil langkah-langkah untuk meredam beberapa kejadian di dalam kampus yang melibatkan mahasiswa termasuk aksi tawuran. Senat mensyinyalir kejadian tawuran maupun insiden lainnya yang kembali marak belakangan ini dipersiapkan dan terjadi pada malam hari," kata Rektor UNM Prof Aris Munandar MPd melalui Pembantu Rektor (PR) III Prof Hamsu Gani, seperti dikutip Tribun (Jumat, 17/10).
Sejak keputusan ini ditetapkan, mahasiswa hanya boleh beraktivitas di dalam kampus hingga pukul 18.00 wita.
Aris langsung memimpin pertemuan dengan seluruh pimpinan universitas, dekan, maupun pejabat setingkat kepala biro, untuk membahas keputusan ini, di gedung rektorat lantai tiga UNM Gunungsari.
Selain, melarang mahasiswa menginap di kampus, senat universitas juga akan melakukan penataan lingkungan kampus secara luas mulai tata ruang universitas sampai lembaga kemahasiswaan.
Nantinya, untuk lembaga kemahasiswaan tingkat universitas akan menyatu di pusat kegiatan mahasiswa (PKM) yang dalam waktu dekat akan direnovasi. Sedangkan ruangan untuk lembaga kemahasiswaan tingkat fakultas dan himpunan diusahakan menyatu ke fakultas maupun jurusan masing-masing.(Rusdy Embas) Selengkapnya...
Label:
Mahasiswa
Langganan:
Postingan (Atom)
